Setiap pagi, Mak Ucih (66) tetap memaksakan diri menjajakan peuyeum, singkong, pisang, dan sayur meski tubuhnya menahan nyeri lambung. Dengan bobot dagangan mencapai 18 kg, ia melangkah pelan melewati tanjakan demi memastikan anak bungsunya, Ase, yang tidak bisa berjalan dan berbicara normal, tetap makan dan listrik serta kebutuhan rumah terpenuhi. Sejak suaminya meninggal, seluruh beban hidup ia pikul sendiri.

Meski penghasilannya kecil, hanya Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari. Mak Ucih tetap berjuang. Uang itu harus dibagi untuk makan, obat lambung, kebutuhan Ase, dan kadang untuk membayar utang modal dagang.

Tak jarang ia dan Ase harus makan seadanya saat dagangan sepi. Pernah ia ditipu, kehilangan tabungan bertahun-tahun, bahkan dipalak di jalan, namun semangatnya untuk bertahan demi anaknya tak pernah padam.

Hari ini, Mak Ucih tidak seharusnya berjuang sendirian. Uluran tangan kita bisa meringankan beban hidupnya, menutup kerugian dagangan, dan memastikan Ase mendapatkan perawatan serta kebutuhan sehari-hari. Yuk bersama, kita bisa memberikan kesempatan bagi Mak Ucih untuk hidup lebih aman, sehat, dan tetap menjaga anaknya dengan penuh cinta.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |